

Pemahaman tentang underlying assets sangat penting untuk memahami kompleksitas derivatif keuangan. Artikel ini membahas definisi, jenis, dan contoh underlying assets, memberikan gambaran lengkap mengenai konsep fundamental dalam dunia keuangan.
Sebelum membahas underlying assets, perlu memahami apa itu derivatif. Derivatif merupakan instrumen keuangan yang nilainya bersumber dari kinerja suatu entitas dasar. Entitas tersebut, yang disebut underlying asset, dapat berupa saham, obligasi, komoditas, mata uang, suku bunga, atau indeks pasar. Derivatif dimanfaatkan untuk berbagai tujuan seperti trading, spekulasi, hedging, dan penemuan harga.
Underlying asset merupakan instrumen atau aset keuangan yang menjadi acuan harga suatu derivatif. Nilai kontrak derivatif secara langsung bergantung pada nilai underlying asset-nya. Perubahan harga underlying asset secara otomatis memengaruhi nilai derivatif. Contoh derivatif yang umum meliputi kontrak opsi dan kontrak futures.
Kontrak opsi memberikan hak, tanpa kewajiban, kepada pembeli untuk membeli atau menjual aset pada harga yang telah ditentukan dalam periode waktu tertentu. Sementara itu, kontrak futures mewajibkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi aset dengan harga yang sudah disepakati pada tanggal tertentu di masa depan.
Beragam aset dapat berfungsi sebagai underlying asset untuk derivatif. Beberapa yang paling umum antara lain:
Bahkan, faktor non-konvensional seperti kondisi cuaca juga digunakan sebagai underlying asset untuk derivatif, terutama di sektor yang sangat dipengaruhi oleh variabilitas cuaca.
Untuk memperjelas konsep ini, ambil Bitcoin sebagai underlying asset. Seorang pemegang Bitcoin yang optimis terhadap masa depan crypto tetapi ingin mengantisipasi kemungkinan penurunan harga jangka pendek dapat membeli opsi put. Opsi ini memberikan hak untuk menjual sejumlah Bitcoin pada harga yang sudah ditentukan dalam periode tertentu, memberikan batas bawah harga dan membatasi potensi kerugian.
Per November 2025, harga Bitcoin menunjukkan fluktuasi yang signifikan, sehingga menjadi underlying asset yang menarik untuk berbagai produk derivatif. Trader dan investor terus memanfaatkan derivatif berbasis Bitcoin untuk hedging maupun spekulasi.
Walaupun banyak aset dapat dijadikan underlying asset, beberapa item tidak sesuai untuk tujuan ini. Properti pribadi, aset tidak berwujud seperti paten dan merek, serta barang yang mudah rusak atau sulit disimpan umumnya tidak memenuhi kriteria underlying asset. Syarat utama underlying asset adalah harus kompatibel dengan mekanisme perdagangan yang efisien agar penemuan harga dapat berjalan dengan akurat.
Pemahaman underlying asset sangat penting untuk menguasai dunia derivatif keuangan. Dari saham dan obligasi hingga cryptocurrency dan kondisi cuaca, berbagai aset dapat menjadi dasar kontrak derivatif. Dengan memahami konsep underlying asset serta kaitannya dengan derivatif, investor dan profesional keuangan dapat menavigasi lanskap keuangan modern secara optimal dan memanfaatkan instrumen ini untuk berbagai tujuan strategis seperti hedging, spekulasi, dan manajemen risiko.
Underlying asset adalah instrumen keuangan yang menjadi acuan nilai suatu derivatif. Bisa berupa saham, obligasi, komoditas, atau aset lain yang menjadi sumber nilai derivatif.
Ya, emas adalah underlying asset. Emas digunakan dalam beberapa ETF dan instrumen keuangan, meskipun sering dikritik karena hasil jangka panjang yang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan aset lain.
Evaluasi toleransi risiko, pemahaman pasar, dan tujuan investasi. Prioritaskan aset dengan likuiditas dan volatilitas tinggi. Uji strategi melalui akun demo sebelum berinvestasi.











